Oh Dios, Deje que su feliz toda la creación, todas las personas que amo, mis hermanos, mis amigos, y no te olvides de mis padres.

on Selasa, 31 Agustus 2010 | 0 C0Mm3nTs

Seni Rupa ITB, tempat Kaboel mempelajari gagasan-gagasan seni rupa modern, memang lebih mendekati sebagian dari asas-asas seni rupa modern Eropa yang percaya pada rinsip-prinsip universalisme. Juga melalui jalur akademis itu ia memberi keseimbangan antara rasio dan emosi dan meluruskan modernisasi yang berkembang di abad-19. Kesenian yang kemudian disadarinya bukanlah sebuah misteri yang Cuma dimiliki oleh seniman sebagai suatu penemuan. Melainkan sebagai suatu kegiatan intelektual dan perasan yang harus dipahami falsafahnya dan dipelajari prinsip-prinsipnya.

 

Kaboel memahami seni rupa modern melalui suatu metode yang asas-asasnya tersusun secara akademis. Kesadaran terhadap bidang datar bahwa gambar adalah benda. Dimana masalah-masalah teknis dan estetis lebih diutamakan untuk dieksplorasi ketimbang kandungan ideologisnya, menunjukan pemahaman pada hakikat seni rupa yang mendasar. Bersamaan dengan kegiatannya di bidang seni lukis ditahun 1964, Kaboel turut mempopulerkan kegiatan seni grafis dan mengajar di studio tersebut bersama Mochtar Apin. Pilihan untuk mengajar di Seni Rupa ITB, khusus untuk rumpun seni yang terasing ini, merupakan suatu tantangan tersendiri sebagai seniman pengajar seperti Kaboel. Di satu pihak, ia juga masih ingin terus berkarya, baik lewat lukisan maupun seni grafis, dan di pihak lain ia juga tak bisa meninggalkan dunia pendidikan demi kepentingan-kepentingan pribadi. Lagi pula bidang pendidikan seni grafis masih memerlukan semangat idealisme yang tinggi untuk mempopulerkannya tak semudah jalan yang ditempuh oleh seni lukis.

 

Pada akhirnya Kaboel terpaksa harus mengerjakan keduanya, tanpa harus mengabaikan dunia pendidikan. Keinginan untuk mempopulerkan seni grafis seperti yang dianjurkan Mochtar Apin, guru dan sahabatnya tak pernah surut sebagaimana hal ini sering dianjurkan Kaboel kepada murid-muridnya dikemudian hari namun, karya-karya grafisnya masih belum mendapatkan tanggapan sebaik lukisan-lukisannya.

 

Model Duduk dan Berbaring,

cat minyak diatas kanvas (1975)

Dunia seni grafis rupanya masih menemukan nasib buruk. Persoalan ini pada akhirnya menjadi persoalan klasik dikalangan pegrafis, dan menjadi beban tersendiri bagi Kaboel sebagai guru dibidang ini. Maka tak heran jika ia lebih condong mempertaruhkan karya-karyanya dalam pameran-pameran di mancanegara, seperti Belanda, Belgia, Swiss, Jerman, New York, Jepang dan Singapura. Memang cukup ironis hasilnya. Disana karya Kaboel malah mendapatkan tanggapan selayaknya.

 

 

Kaboel senantiasa gelisah akan perkara ini. Dimensi sosial yang inheren dalam seni grafis, ternyata hanya diminati oleh para pencinta seni dari mancanegara saja. Dan sampai memasuki tahun 2000, tetap saja karya lukisnyalah yang lebih banyak dimiliki masyarakat di tanah air. Pada setiap karya-karya Kaboel, baik itu lukisan atau grafis, senantiasa muncul obyek-obyek tertentu yang disukainya, seperti landscape, sosok dan fauna. Hal ini tentu harus dibedakan dengan sketsa-sketsa yang dibuatnya, seringkali semacam catatan dari suatu penglihatan dalam perjalanan. Tidaklah persis diketahui apakah setiap lukisan Kaboel menggunakan model atau tidak, yang jelas ia terlebih dahulu membuat studi untuk setiap obyek yang ingin dilukisnya. Seluruh deformasi dan distorsi didalam karyanya adalah karena ia kerap lebih mempertimbangkan keseluruhan struktur lukisan serta organisasi unsur-unsurnya.

 

Abstraksi terhadap subyek yang cukup lanjut itu membuat karya-karya Kaboel sering berupa rumusan, hal yang membedakannya dengan pelukis-pelukis yang membuat penafsiran terhadap sosok atau obyek yang dilihatnya, misalnya seperti kaum impresionisme Eropa di penghujung abad-19 menafsirkan sekitarnya. Lebih dari sekedar persoalan etis, kegelisahan Kaboel ini lebih merefleksikan nilai-nilai etisnya.

 



Courtesy of tamanismailmarzuki

Blogged with the Flock Browser

Related Posts by Categories



0 C0Mm3nTs:

Posting Komentar